Jalur kereta api Jakarta–Cikampek–Padalarang
Jalur kereta api Jakarta–Cikampek–Padalarang adalah jalur kereta api yang menghubungkan Stasiun Jakarta Kota dengan Stasiun Cikampek kemudian dilanjut ke Stasiun Padalarang. Jalur ini melintasi dua provinsi, yaitu Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat (Kabupaten/Kota Bekasi, Karawang, Purwakarta, dan Bandung Barat) dengan dua kabupaten/kota yang dilayani jalur ini berada di wilayah Jabodetabekpunjur. Jalur ini merupakan salah satu jalur kereta api antarkota yang terpadat di Indonesia menghubungkan Jabodetabek dengan Bandung, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, dan Malang serta sejak 1920-an merupakan jalur ganda (double track) dan pada segmen Jatinegara–Bekasi telah dielektrifikasi sejak 1992.[1] Segmen Batavia–Cikampek umumnya dirujuk sebagai Krawanglijn (bahasa Belanda dari lin Karawang) serta merupakan bagian dari lintas selatan dan utara Jawa; sementara Cikampek–Padalarang merupakan bagian dari lintas barat Jawa, bersama dengan Bantamlijn. Karena meningkatnya frekuensi perjalanan kereta api, segmen Cikarang–Jatinegara dibangun menjadi jalur dwiganda (quadruple-track railway). Jalur akan memiliki empat jalur dengan sepasang jalur untuk kereta api antarkota dan sepasang lainnya untuk kereta api komuter. Saat ini, jalur dwiganda telah beroperasi dari Stasiun Jatinegara hingga Stasiun Bekasi dan direncanakan ini akan sampai Stasiun Cikarang. Terdapat dua jembatan yang melintasi dua sungai bersejarah: Kali Bekasi (di dekat Stasiun Bekasi) dan Ci Tarum (di dekat Stasiun Kedunggedeh). Sementara itu, pada segmen Cikampek–Padalarang, jalur ini berubah dari lintas datar menjadi lintas pegunungan. Segmen ini juga memiliki banyak jembatan; dua yang terkenal adalah Jembatan Cikubang yang memiliki panjang kurang lebih 300 meter serta Jembatan Cisomang yang ketinggian dari dasar lembah sekitar 100 meter dan merupakan jembatan tertinggi di Pulau Jawa bahkan Asia Tenggara. Selain itu di jalur ini juga menjadi terowongan kereta api konvensional terpanjang di Jawa yang aktif, yaitu Terowongan Sasaksaat dengan panjang 949 meter. SejarahAwal pembangunanPengoperasian jalur ini dilakukan secara bertahap. Awalnya, jalur kereta api segmen pertama, yaitu Batavia–Karawang, dibangun dan dioperasikan oleh Bataviasche Oosterspoorweg Maatschappij (BOS). Proposal konsesi jalur ini diajukan pada Juli 1880, kemudian dikabulkan dalam keputusan tanggal 4 Januari 1882, kepada pemegang saham pengendali H.J. Meertens dan firma Tiedeman dan Van Kerchem. Proposal ini sudah termasuk jalur-jalur cabang yang akan dibangun. Namun, trase jalur ini sempat ditangguhkan konsesinya oleh Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) menurut keputusan 11 Oktober 1883 No. 34, karena banyak terjadi revisi trase jalur. Sementara itu, proposal untuk memperpanjang jalur sampai Cirebon tidak disetujui. Bahkan perusahaan ini bersaing dengan Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), mengenai siapa yang berhak untuk mengoperasikan Pelabuhan Tanjung Priok. Hal ini dikarenakan pada masa itu, Pemerintah Kolonial memutuskan bahwa eksploitasi kereta api jalur Priok juga mewajibkan eksploitasi atas pelabuhan tersebut. Menanggapi persaingan yang masih terus bergulir, Pemerintah Kolonial menugasi Staatsspoorwegen, perusahaan yang dibentuk oleh Pemerintah Kolonial, untuk mengoperasikan jalur tersebut mulai 2 November 1885.[2] Dengan keputusan No. 1a tanggal 19 Februari 1884, ditetapkan bahwa jalur kereta api dari Batavia–Pasar Senen–Meester Cornelis–Bekasi akhirnya disepakati dan pembangunan akhirnya dilaksanakan. Pada tanggal 31 Maret 1887 jalur Batavia–Bekasi yang dibangun oleh BOS, sudah siap untuk lalu lintas umum.[3] Selanjutnya, pada tanggal 14 Agustus 1890, jalurnya dipanjangkan sampai Cikarang, kemudian ke Kedunggedeh pada 21 Juni 1891, dan terakhir ke Karawang pada 20 Maret 1898.[3] Karena semakin banyak yang ingin cepat sampai ke Bandung, muncul upaya untuk memperpanjang jalur BOS dan mengarahkannya ke Preangerlijn (jalur kereta api Bogor–Padalarang–Kasugihan). Muncul proposal konsesi yang diterima oleh Menteri Urusan Jajahan Hindia Belanda kala itu, J. T. Cremer. Kala itu, Cremer juga telah menandatangani kesepakatan akuisisi jalur Batavia–Karawang dari BOS, sekaligus melunasi tagihan utang kepada Serikat Pekerja Umum. Akuisisi tersebut disahkan dalam Staatsblad No. 222 pada tanggal 9 Juni 1898. Dengan harga beli sebesar ƒ3.900.000, Negara Hindia Belanda menjadi pemilik prasarana yang akan diperpanjang sampai Padalarang. Akuisisi ini akhirnya rampung pada 4 Agustus 1898.[3] Setelah akuisisi rampung, SS mengembangkan jalur ini. Dibangun dua jalur baru, yakni dari Stasiun Batavia BOS ke Tanjung Priok, serta jalur menuju Anyer Kidul, sehingga Batavia BOS tidak lagi dianggap terminus..[4] Kelanjutan jalurnya sendiri diteruskan oleh SS menuju Cikampek dan Purwakarta dan diresmikan pada tanggal 27 Desember 1902, kemudian dilanjut menerjang pegunungan hingga akhirnya sampai di Padalarang pada tanggal 2 Mei 1906. Kelanjutan jalur tersebut dibangun untuk memangkas waktu tempuh perjalanan kereta api Jakarta–Bandung.[3] Setelah perpanjangan jalur menuju Purwakarta, pada 1 Maret 1904 juga sudah rampung jalur Kemayoran–Ancol–Tanjung Priok.[4] Selanjutnya, jalur ini kemudian disambungkan menuju Meester Cornelis, sehingga jalur ini sudah dipandang mirip jalur ganda, tetapi sebenarnya adalah sepasang jalur tunggal yang tugasnya untuk memisahkan kereta api yang menuju Batavia dan yang menuju Tanjung Priok.[5] SS juga membangun kembali Stasiun Pasar Senen dan Kemayoran, dan proyek-proyek ini menggelontorkan dana sebesar ƒ350.000,00.[6] Pembangunan jalur ganda dan elektrifikasi Jakarta–Jatinegara 1920-anJalur ganda pada lintas ini mulai diinisiasi pada 1922. Pada 24 Juni 1922, koran de Preangerbode melaporkan progres proyek jalur ganda yang saat itu masih dalam pembuatan jembatan kembar. Jembatan Kedunggedeh, di atas aliran Ci Tarum, dibuat menggunakan kerangka baja yang diimpor dari pabrik baja di Jerman, dan bahkan pembuatannya di lapangan pun melibatkan gabungan insinyur Belanda dan Jerman.[7] Pada awal Oktober 1923, SS telah mengumumkan perubahan Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) baru, sehubungan dengan pengoperasian jalur ganda Kemayoran hingga Cikampek.[8] Elektrifikasi juga di waktu itu juga berlangsung. Pada 6 April 1925, dua bangunan baru Stasiun Pasar Senen dan Stasiun Tanjung Priok mulai dibuka sebagai bagian dari peringatan ulang tahun ke-50 SS, sekaligus meresmikan KRL Batavia–Meester Cornelis. Namun, operasional jalur ganda dan elektrifikasi baru selesai dituntaskan setelah Stasiun Jakarta Kota diresmikan pada 8 Oktober 1929. Pada 1930, seluruh jalur ganda kereta api yang ada di lintas Batavia telah rampung.[9] Pada tanggal 28 Oktober 1930, bangunan baru Stasiun Karawang akhirnya dioperasikan, menggantikan stasiun lama.[10] Elektrifikasi 1992 dan 2017Sehubungan dengan rencana perluasan KRL Jabotabek, PJKA dan Departemen Perhubungan memulai melaksanakan elektrifikasi. Pada 13 Mei 1988 saja, di Stasiun Bekasi, pembebasan lahan saja masih belum dituntaskan. Lahan tersebut digunakan untuk membangun Depo KRL Bekasi sekaligus perluasan emplasemen stasiun.[11] Hingga 1992, progres proyek pun akhirnya sampai dengan pembangunan fasilitas sarana kelistrikan untuk KRL Jabotabek yang akan diperpanjang hingga Bekasi. Elektrifikasi yang digunakan adalah 1.500 V DC listrik aliran atas. Bangunan stasiun baru juga ditambah dan dibuat sebagai stasiun KA komuter, termasuk membangun Stasiun Buaran, Klender Baru, dan Rawabebek.[12] Proses elektrifikasi jalur ini pun rampung saat gardu LAA di Kranji dinyalakan 8 September dan 8 Oktober 1992, Jatinegara pada 23 September 1992, dan Jakarta Kota pada 27 November 1992.[13] Berikutnya, antara tahun 2014 hingga 2017, dilakukan perpanjangan elektrifikasi menuju Stasiun Cikarang. Proyek perpanjangan elektrifikasi ini menelan biaya sebesar Rp2,3 triliun dan beroperasi mulai 8 Oktober 2017.[14] Pembangunan ganda Cikampek–PadalarangProyek jalur ganda ini merupakan bagian dari peningkatan kapasitas lintas di rute Cikampek–Bandung. Sampai saat ini, ruas-ruas di jalur ini yang sudah menjadi jalur ganda adalah ruas Cikampek–Purwakarta, Ciganea–Sukatani, dan Plered–Cikadongdong.[15][16] Karena merupakan jalur pegunungan, jalur ganda Ciganea–Sukatani juga mengepras perbukitan rawan longsor di daerah Ciganea dari jalur kereta api yang tadinya berkelak-kelok mengikuti kontur bukit menjadi lebih lurus dan melewati jembatan baru yang terbuat dari beton. Jembatan ini sekarang dikenal sebagai Jembatan Cisuren.[17] Pada 3 Desember 2004, Presiden Megawati Soekarnoputri meresmikan Jembatan Cisomang.[18] Pembangunan jalur dwiganda Manggarai–CikarangDi lintas Manggarai–Cikarang sedang dibangun jalur dwiganda atau disebut juga quadruple track untuk segmen Manggarai–Jatinegara–Cikarang sepanjang 34 kilometer; menghubungkan Stasiun Manggarai sampai Stasiun Cikarang, dan dipakarsai oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian.[19] Proyek ini bertujuan untuk memisahkan jalur utama untuk kereta api antarkota dan jalur kereta komuter sehingga menghilangkan keterlambatan Commuter Line Jabodetabek dan juga sekaligus menambah kapasitas penumpang yang semula 850 ribu penumpang menjadi 1,2 juta penumpang per harinya.[19] Proyek ini dimulai sejak tahun 2013 dan diharapkan selesai pada 2019.[20] Proyek ini menggunakan sistem pembiayaan paket,yang dibagi menjadi paket A, paket B1, dan paket B21.[20] Paket A senilai Rp2,5 triliun dengan menggunakan sukuk negara, Paket B1 senilai 3 triliun berasal dari pinjaman Jepang, dan Paket B21 sebesar 1 triliun dari APBN.[20] Untuk mempersiapkan proyek ini, beberapa stasiun ada yang direnovasi dengan menambahkan bangunan baru dan ada yang ditambahkan. Selain itu, dibangun dua stasiun baru yang dikhususkan untuk KRL, yaitu Stasiun Telaga Murni dan Stasiun Bekasi Timur.[21][22] Pengoperasian jalur dwiganda telah dilakukan di segmen Stasiun Jatinegara sampai Stasiun Cakung mulai 14 April 2019[23] dan kemudian hingga Stasiun Bekasi mulai 17 Desember 2022. Jalur terhubungLintas aktif
Lintas nonaktif
Layanan kereta apiPenumpangAntarkota
Komuter (Commuter Line)
Barang
Daftar stasiunJalur lama
Segmen aktif
Catatan
Referensi
Daftar pustaka
Pranala luarPeta rute:
|