Zhang Chong-Ren
| Zhang Zhong Ren | |
|---|---|
Zhang Chong-Ren karya dari Hergé | |
| Informasi Umum | |
| Penerbit | |
| Pencipta | Hergé |
| Informasi tentangnya dalam cerita | |
| Nama lainnya | (Prancis) Tchang Tchong-Chen (Inggris) Chang Chong-Chen |
| Zhang Chong-Ren | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Hanzi tradisional: | 張仲仁 | ||||||||
| Hanzi sederhana: | 张仲仁 | ||||||||
| |||||||||
Zhang Zhong Ren (Hanzi: 張仲仁; Pinyin: Zhāng Zhòngrén; bahasa Prancis: Tchang Tchong-Chen) adalah tokoh fiksi dalam serial komik Petualangan Tintin karya kartunis Belgia Hergé. Meskipun Zhang dan Tintin hanya saling mengenal dalam waktu singkat, mereka menjalin ikatan yang mendalam yang membuat mereka meneteskan air mata saat berpisah atau kembali bersatu.
Zhang terinspirasi dari seniman Tiongkok Zhang Chongren, seorang teman sejati Hergé.[1]
Cerita yang memperkenalkannya memiliki dampak besar bagi Hergé dan Tintin, menjadikannya salah satu seri paling populer sepanjang masa.
Sejarah karakter
Dalam proses merencanakan ceritanya, Hergé dihubungi oleh Bapa Gosset, pendeta pembimbing bagi para mahasiswa Tiongkok di Universitas Louven, yang menyarankan Hergé untuk melakukan riset langsung mengenai kehidupan di Tiongkok sebagaimana adanya. Hergé menyetujuinya, dan Gosset memperkenalkannya kepada Zhang Chongren, seorang mahasiswa di Académie Royale des Beaux-Arts di Brussel.
Kedua pria tersebut, yang sama-sama berusia 27 tahun, menjadi akrab sehingga Hergé memutuskan untuk memasukkan teman barunya itu ke dalam ceritanya. Zhang menyediakan sebagian besar teks Tionghoa yang akan ditampilkan dan menceritakan banyak hal kepada Hergé tentang budaya, sejarah, dan teknik menggambar Tiongkok.[2] Ia juga memberikan gambaran rinci tentang kehidupan di Tiongkok pada tahun 1930-an, yang mencakup pendudukan wilayah timur oleh Jepang, Britania Raya, Amerika Serikat, dan kekuatan Barat lainnya.
Hasil pertemuan mereka adalah cerita Lotus Biru, sebuah tonggak penting dalam perkembangan Petualangan Tintin.[3] Sejak saat itu, Hergé melakukan riset mendalam terhadap subjek-subjeknya. Ia juga mengubah sikapnya terhadap hubungan antara penduduk asli dan pendatang. Sebelumnya, Hergé memandang imperialisme secara positif dalam Tintin di Congo (terbit pada tahun 1930). Kini, dalam Lotus Biru (1934–35), ia mengkritik pendudukan Jepang di Tiongkok dan menampilkan peristiwa yang terinspirasi oleh Insiden Mukden. Pemukiman Internasional Shanghai, dengan para pengusaha Barat yang rasis dan polisi korup (termasuk perwira kulit putih dan Sikh), juga digambarkan dalam citra yang buruk.
Bertemu dengan Tintin

Karakter fiksi Zhang pertama kali muncul dalam Lotus Biru sebagai seorang anak yatim piatu yang diselamatkan Tintin dari tenggelam. Hal pertama yang ia tanyakan adalah mengapa seorang asing berkulit putih seperti Tintin repot-repot menyelamatkan seorang anak laki-laki berkulit non-putih (Tintin juga akan memicu pertanyaan serupa saat membantu Zorrino dalam Di Kuil Matahari). Ia dan Tintin kemudian bertukar pendapat mengenai prasangka yang dimiliki orang Tionghoa dan non-Tionghoa satu sama lain, lalu menertawakannya. Dalam deskripsinya tentang prasangka Barat, Tintin menyertakan karakter mirip Fu Manchu. (Sebenarnya, Lotus Biru menampilkan penjahat Jepang bernama Mitsuhirato.)
Mereka kemudian menjadi teman, dan Zhang membawa Tintin ke Hukow di mana dia sedang memburu seorang dokter yang diculik. Di sana mereka menginap di rumah teman ayah Zhang yang telah meninggal. Mereka kemudian bertemu Dupont dan Dupond yang tiba berpakaian seperti tokoh dalam opera Tiongkok dan diikuti dengan penuh tawa oleh setengah penduduk.
Dupont dan Dupond dikirim untuk menangkap Tintin dan membawanya ke kantor polisi setempat guna memulai proses ekstradisi. Namun, mereka kehilangan sebuah dokumen berbahasa Tionghoa yang memerintahkan polisi setempat untuk membantu mereka. Zhang mengganti kertas itu dengan yang lain yang menyatakan bahwa Dupont dan Dupond adalah "orang gila dan ini buktinya". Ketika membaca dokumen itu, kepala polisi tertawa terbahak-bahak, lalu ia mengusir Dupont dan Dupond dan membebaskan Tintin.
Zhang juga menyelamatkan Tintin dari seorang agen Jepang yang menyamar sebagai fotografer dan dikirim untuk membunuhnya.
Tintin membawa Zhang bersamanya kembali ke Shanghai untuk membalas dendam kepada musuhnya, Mitsuhirato. Tintin tinggal di markas Putra Naga, sebuah perkumpulan rahasia yang memerangi perdagangan opium. Zhang tinggal bersama mereka dan ikut serta dalam pertarungan akal melawan sebuah geng besar penyelundup opium.
Zhang memainkan peran krusial dalam penangkapan para pemimpin geng tersebut dan menyelamatkan Tintin serta yang lainnya dari hukuman mati. Para penjahat itu termasuk musuh bebuyutan Tintin, Rastapopoulos. Setelah itu, Zhang diadopsi oleh sekutu Tintin, Wang Chen-Yee.
Tintin dan Milo kemudian berangkat ke Eropa di tengah perpisahan yang penuh air mata dan emosional dengan Zhang dan keluarga barunya.
Zhang dan Yeti
Zhang tidak pernah disebutkan dalam cerita-cerita tersebut hingga Tintin di Tibet, yang diterbitkan 24 tahun kemudian pada tahun 1960. Dalam cerita ini, Zhang mengirimkan surat kepada Tintin di mana ia mengumumkan kepindahannya yang akan segera dilakukan dari Hong Kong, tempat ia tinggal, ke London untuk bekerja di sebuah toko barang antik milik saudara laki-laki Wang. Namun, pesawatnya jatuh di pegunungan Tibet. Zhang selamat dari kecelakaan tersebut sementara semua penumpang lainnya tewas, dan ia diselamatkan oleh yeti, makhluk mitos yang konon hidup di Himalaya. Yeti merawat Zhang, memberinya makanan, tetapi ketika tim penyelamat tiba, ia juga membawa Zhang, yang lemah karena demam, sejauh mungkin.
Tintin yakin bahwa Zhang tidak meninggal, setelah melihatnya dalam mimpi memanggil pertolongan. Melawan segala logika, ia berangkat untuk mencarinya, dengan bantuan terpaksa dari Kapten Haddock yang, bersama hampir semua orang lain, percaya bahwa Zhang telah meninggal.
Tintin dan Haddock akhirnya melacak Zhang dan yeti ke sebuah gua lain, dan berhasil menyelamatkannya, setelah reuni yang penuh haru.
Meskipun harus meninggalkannya, Zhang sangat berterima kasih kepada yeti karena telah menyelamatkan nyawanya dan menyebutnya "makhluk yang malang", bukan "yang mengerikan". Ketika Tintin bertanya apakah suatu hari nanti ia mungkin ditangkap, Zhang menolaknya, merasa bahwa yeti seharusnya dipandang sebagai manusia, bukan hewan liar.
Zhang kemudian pergi ke London dan dari sana ia tetap menjalin komunikasi dengan mengirimkan surat kepada Tintin dan Haddock (lihat Permata Castafiore).
Tintin di Tibet mungkin merupakan karya Hergé yang paling personal. Saat menulisnya, ia belum bertemu Zhang yang asli selama beberapa dekade. Kemudian, pada tahun 1981, media Prancis berhasil menemukan Zhang di Tiongkok dan mengatur perjalanan ke Eropa untuk reuni dengan Hergé. Pada tahun 1985, Zhang memperoleh kewarganegaraan Prancis dan menetap di Paris untuk mengajar, di mana ia meninggal pada tahun 1998.
Zhang asli ditemukan
Tintin di Tibet mungkin merupakan karya Hergé yang paling pribadi. Ketika ia menulisnya, ia belum pernah bertemu kembali dengan Zhang selama beberapa dekade. Kemudian, pada tahun 1981, media massa Prancis berhasil menemukan Zhang di Tiongkok dan merancang sebuah perjalanan ke Eropa untuk sebuah pertemuan dengan Hergé.
Di foto reuni mereka ini bisa dilihat latar belakangnya yang bergambarkan Tintin dan Zhang sedang bersama dengan Tintin sedang mengenakan busananya di Lotus Biru. Kata-katanya yang berada di latar belakang itu ditulis dalam Bahasa Prancis dan berasal dari episode di mana Tintin berhasil menemukan Zhang dalam cerita petualangan Tintin di Tibet:
"Aku tahu aku akan bisa menemukanmu pada akhirnya! ... Ini sangat membahagiakan!"
"Tintin! Oh, berapa sering aku memikirkan kamu!"
Pada tahun 1985, Zhang memperoleh kewarganegaraan Prancis dan tinggal di Paris untuk mengajar. Disana ia meninggal pada tahun 1998.
Referensi
- ^ "Tintin at the top". The Times. London. 9 December 2006. Diarsipkan dari asli tanggal 15 June 2011. Diakses tanggal 26 May 2010.
- ^ Assouline, Pierre; Ruas, Charles (2009). Hergé: The Man Who Created Tintin. Oxford University Press. hlm. 51. ISBN 9780199739448. Diakses tanggal 24 May 2020.
- ^ Liechty, Mark (2017). Far Out: Countercultural Seekers and the Tourist Encounter in Nepal. University of Chicago Press. hlm. 63. ISBN 9780226428949.
Bibliografi
- Farr, Michael (2007). Tintin & Co. London: John Murray Publishers Ltd. ISBN 978-1-4052-3264-7.
- Peeters, Benoît (2012) [2002]. Hergé: Son of Tintin. Tina A. Kover (translator). Baltimore, Maryland: Johns Hopkins University Press. ISBN 978-1-4214-0454-7.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.