Bank MAS
| Bank MAS | |
Jenis perusahaan | Perseroan terbatas publik, anak usaha |
| Kode emiten | BEI: MASB |
| Industri | Jasa keuangan |
| Didirikan | 28 Juli 1992 |
| Pendiri | Keluarga Winoto dan Halim |
| Kantor pusat | Grha Bank MAS, Jl. Setiabudi Selatan Kav. 7-8 Jakarta Selatan |
Wilayah operasi | Indonesia |
Tokoh kunci | Danny Hartono (Direktur Utama) Hendrik Tanojo (Komisaris Utama)[1] |
| Produk | |
| Merek | Bebas |
| Jasa |
|
| Pendapatan | |
| Total aset | |
| Total ekuitas | |
| Pemilik | Wings |
Karyawan | 1.191 (2025)[1] |
| Induk | PT Danabina Sentana (52,67%) PT Multi Anekadana Sakti (18,81%) PT Halim Sakti (1,5%)[1] |
| Situs web | www |
PT Bank Multiarta Sentosa Tbk (berbisnis dengan nama Bank MAS) adalah perusahaan perbankan swasta devisa yang berdiri sejak 1992 dan berkantor pusat di Jakarta. Untuk mendukung kegiatan bisnisnya, hingga akhir tahun 2025, bank menengah beraset Rp 33 triliun ini memiliki 46 kantor cabang dan 127 ATM/CRM yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.[1]
Sejarah
Awal beroperasi
Sebagai salah satu bank pasca-Pakto 88, Bank Multiarta Sentosa didirikan pada 28 Juli 1992. Bank ini mulai beroperasi pada 11 Januari 1993, setelah mendapatkan izin Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 1093/KMK.017/1992.[2] Dengan nama dagang awal MAS Bank, bank ini awalnya berkantor pusat di Jl. Sukarjo Wiryopranoto No. 2/B3,[3] yang belakangan pindah ke Jl. Suryopranoto 24A.[4] Setelah melalui sejumlah ekspansi, di tahun 2013 Bank MAS telah memiliki 2 kantor cabang dan 7 kantor cabang pembantu yang ada di Jakarta, Tangerang dan Surabaya.[2]
Mulanya Bank MAS dimiliki oleh dua keluarga bankir dan pebisnis, yaitu Winoto (Sucahyo, Hendra Gunawan dan Budi Afandi Winoto) dan Halim (Januarlis dan Jusuf Halim). Adapun persentase saham terbesar berada di tangan Sucahyo Winoto sebesar 50%.[5] Keluarga pertama merupakan bankir yang sebelumnya menjadi pemegang 19,93% saham dan direktur dari Overseas Express Bank,[6][7] yang kemudian dilepas pada tahun 1992 setelah bersengketa dengan pemegang saham lain.[8] Sementara itu, keluarga Halim diketahui sebagai pengusaha kimia dalam wadah PT Halim Sakti.[9] Belakangan struktur kepemilikan individu tersebut diubah menjadi tiga perusahaan, yaitu PT Danabina Sentana (70%), PT Multi Anekadana Sakti (20%) dan PT Halim Sakti (10%).[10]
Melalui Surat Keputusan Direktur Perizinan dan Informasi Perbankan Bank Indonesia No. 5/4/KEP.Dir.PIP/2003 tanggal 24 Desember 2003, Bank MAS mendapatkan izin tambahan untuk menjadi pedagang valas.[2] Meskipun operasionalnya berjalan tanpa kendala sebagai bank yang sehat, Bank MAS saat itu tetap merupakan bank berskala kecil. Asetnya di tahun 2008 hanya sebesar Rp 545 miliar.[11]
Akuisisi Wings
Pada Desember 2013, salah satu grup perusahaan FMCG terkemuka di Indonesia, Wings Group masuk sebagai pemegang saham utama Bank MAS. Melaui PT Lumbung Artakencana, pemilik Wings (keluarga Katuari-Sutanto) menyuntikkan modal pada pengendali eksisting Bank MAS yaitu PT Multi Anekadana Sakti dan PT Danabina Sentana, dimana pasca-transaksi PT Lumbung Artakencana kini memegang masing-masing 84% dan 80% saham kedua perusahaan. Secara gabungan, persentase tersebut berarti membuat Wings menguasai 77% saham bank ini. Meskipun tidak lagi menjadi pengendali, keluarga Winoto tetap bertahan sebagai pemegang saham minoritas di PT Multi Anekadana Sakti dan PT Danabina Sentana,[5] maupun dalam manajemen perusahaan. Bisa dikatakan, masuknya Wings menandai kembalinya grup usaha tersebut di bidang perbankan, setelah sebelumnya sempat mendirikan dan memiliki Bank Ekonomi Raharja (kini Bank HSBC Indonesia) hingga dijual ke HSBC di tahun 2008.[12]
Lewat akuisisi ini, Bank MAS mampu meningkatkan modalnya hingga Rp 1,05 triliun di akhir 2014.[1] Bank ini selanjutnya dikembangkan Wings untuk menjadi bank kelas menengah, dengan mulai mengembangkan produk-produk baru seperti ATM, kartu debit, internet banking, dan status bank devisa terhitung sejak 13 Juni 2016.[13] Fokus pemasaran Bank MAS ada pada segmen UMKM, ekosistem perusahaan dan karyawan Wings, dan kota-kota yang diharapkan memiliki potensi pertumbuhan tinggi.[5] Lewat ekspansi jaringan, per tahun 2018 Bank MAS sudah memiliki 31 kantor cabang di berbagai daerah seperti Medan, Palembang, Semarang dan Makassar. Bisnis bank pun terdongkrak dengan menunjukkan peningkatan pembiayaan dan pendanaan yang mencapai triliunan, yang naik pesat dibandingkan pra-akuisisi Wings dimana aset Bank MAS hanya dibawah Rp 1 triliun.[13]
Untuk menambah modalnya, pada tanggal 30 Juni 2021 Bank MAS melakukan go public di Bursa Efek Indonesia dengan melepas 186,17 juta saham (14,9%) seharga Rp 3.360/lembar. Dana yang diraup dalam IPO tersebut sebesar Rp 625 miliar, yang digunakan untuk pemenuhan modal bank menjadi Rp 3 triliun ditambah pengembangan layanan digital.[14] Adapun pencanangan bank untuk menjadi bank dengan layanan digital terkemuka dimulai di tahun 2024 lewat peluncuran aplikasi Bebas, yang fiturnya terus ditingkatkan di tahun 2025.[1]
Manajemen
- Dewan Komisaris
- Komisaris Utama: Hendrik Tanojo
- Komisaris: Juwita E. Winoto
- Komisaris Independen: Iwan Nataliputra
- Komisaris Independen: Nancy Herawati
- Dewan Direksi
- Direktur Utama: Ho Danny Hartono
- Direktur: Budi Afandi Winoto
- Direktur: Fely Retnowati
- Direktur: Edwin Ariono
- Direktur: Rahmat B. Santoso
- Direktur: Budi Setiawan
Produk dan Layanan
Simpanan
- Tabungan MASSaving
- Tabungan SiMASter
- Giro
- Deposito
Kredit
- Kredit Modal Kerja
- Kredit Investasi
- Kredit Konsumsi (KPR, KPA, Kredit Kepemilikan Kios/Ruko, KKB)
E-Banking
- Bebas By Bank MAS
- Internet Banking
- Bank MAS ATM
Layanan
- Sistim Kliring Nasional(SKN)
- Real Time Gross Setlement(RTGS)
- Bank Garansi
- Penukaran Valuta Asing
- Payroll Service
- Pick Up Service
- Biller Payment (Pembayaran Tagihan, PAM, Telkom, PLN, dll) melalui ATM
Referensi
- ^ a b c d e f g h i j "Laporan Tahunan 2025" (PDF). PT Bank Multiarta Sentosa Tbk. Diakses tanggal 21 Januari 2022.
- ^ a b c Profil
- ^ Dunia EKUIN dan PERBANKAN
- ^ Directory of Government of the Republic of Indonesia
- ^ a b c "Prospektus MASB 2021". Diarsipkan dari asli tanggal 2021-09-25. Diakses tanggal 2022-06-03.
{{cite web}}: - ^ Acquiring Technological Capabilities: Aircraft and Commercial Banking in Indonesia
- ^ Indonesia's Economy: Briefing Book
- ^ Tempo
- ^ Trade Directory of Indonesia
- ^ Perbankan Indonesia pasca krisis: analisis, prospek, dan profil
- ^ Directory
- ^ Setelah Dicaplok HSBC, Bank Ekonomi (BAEK) Bakal Delisting
- ^ a b Bagaimana Langkah Bank Mas Menjadi Bank Menengah?
- ^ Resmi 'Listing', Bank Mas dan Era Graharealty Genjot Kinerja
Pranala luar
- (Indonesia) Situs Resmi Bank Multi Arta Sentosa
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.