Manai Blau, Lebong Selatan, Lebong
EtimologiNama desa ini diambil dari gabungan kata dalam bahasa Rejang, manai dan blau. Manai atau Bêmanai adalah nama Rejang bagi salah satu empat petulai Rejang yang lebih dikenal dengan nama Melayunya, Bermani.[4] Sementara blau atau dalam dialek lain disebut blêu (bêlêw) bermakna baru.[5] Nama Manai Blau dapat dimaknai sebagai sebuah desa milik atau di wilayah marga Bermani yang baru. Desa ini adalah pemekaran dari kelurahan Mubai[6] yang juga berada dalam wilayah adat Bermani.[7] GeografiDesa Manai Blau berada pada daerah hamparan yang relatif datar.[8] Desa ini dialiri oleh sungai Ketahun,[9] Pembagian administrasiManai Blau terbagi ke dalam tiga dusun.[10] Dalam pelaksaan pemerintahannya, kepala desa (kades) dibantu oleh tiga orang kepala urusan (kaur), tiga kepala dusun (kadus), lima orang anggota Badan Pertimbangan Desa (BPD), serta tiga tenaga tambahan.[11] Kades Manai Blau saat ini dijabat oleh Armen Machfudy.[12] BPD Manai Blau dilantik dan disumpah pada 30 April 2021 untuk masa bakti 2021-2027.[13] DemografiPada tahun 2020 kelurahan ini memiliki penduduk sebesar 1.565 jiwa, terdiri dari 813 jiwa laki-laki dan 752 jiwa perempuan.[14] Sebanyak 331 keluarga di kelurahan ini merupakan pelanggan listrik PLN.[15] PendidikanTidak ada fasilitas pendidikan di desa ini. SD dan MI terdekat berada di Mubai.[16] Sedangkan SMP dan SMA terdekat masing-masing berada di Tes dan Taba Anyar.[17] KesehatanSama halnya dengan pendidikan, Manai Blau tidak memiliki fasilitas kesehatan. Fasilitas kesehatan terdekat antara lain apotek di Tes, poliklinik di Taba Anyar, dan puskesmas rawat inap di Turan Tiging.[18] SosialAgamaIslam adalah agama mayoritas penduduk desa ini. Terdapat sebuah masjid di Manai Blau.[19] Suku bangsa dan bahasaSuku Rejang adalah penduduk asli Manai Blau. Orang Rejang di desa ini secara adat termasuk ke dalam marga Bermani, yang kemudian disatukan dengan marga Jurukalang menjadi marga Bermani Jurukalang. Bahasa asli daerah ini adalah bahasa Rejang. Selain bahasa Rejang, bahasa Melayu juga dipakai secara luas, khususnya dalam berkomunikasi antarsuku bangsa. Bahasa Indonesia dipakai dalam situasi resmi, baik di sekolah, kantor (administrasi), plang papan nama jalan, maupun pengumuman atau khotbah. Komunikasi dan TransportasiTerdapat tiga operator layanan telekomunikasi di daerah ini, dengan status sinyal kuat.[20] Belum ada BTS yang dibangun. BTS terdekat berada di kelurahan Taba Anyar.[20] Manai Blau berada pada Jalan Lintas Curup-Muara Aman, yang jalannya sudah beraspal dan dapat dilalui sepanjang tahun.[21] EkonomiAda ± 15 toko kelontong dan lima kedai makanan yang beroperasi di Manai Blau.[22] Referensi
Daftar pustakaBuku
Laporan
Produk hukum
|