Sesaji Rewanda
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (November 2025) |
Sesaji Rewanda adalah tradisi tahunan masyarakat Desa Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah. Upacara ini merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil bumi, keselamatan warga, dan kesejahteraan desa. Tradisi ini juga menjadi sarana penghormatan terhadap legenda Goa Kreo, yang diyakini sebagai petilasan Sunan Kalijaga, salah satu wali penyebar agama Islam di tanah Jawa.
Istilah rewanda berasal dari bahasa Jawa yang berarti kera. Dalam konteks tradisi ini, kata tersebut merujuk pada empat kera legendaris penjaga Goa Kreo yang dianggap sebagai makhluk sakral. Upacara Sesaji Rewanda diikuti oleh masyarakat dari berbagai dusun di Desa Kandri dan sekitarnya, dengan membawa gunungan hasil bumi, sesaji tradisional, serta replika kayu jati yang menjadi simbol kisah bantuan kera kepada Sunan Kalijaga. Arak-arakan tersebut diiringi kesenian lokal, doa bersama, dan hiburan rakyat, menjadikan tradisi ini perpaduan antara nilai spiritual, sosial, dan pariwisata budaya.[1]
Asal-usul dan legenda
Tradisi Sesaji Rewanda berakar dari legenda yang telah diwariskan turun-temurun di kawasan Gunungpati. Dikisahkan bahwa Sunan Kalijaga sedang mencari kayu jati untuk pembangunan Masjid Agung Demak. Dalam perjalanannya, beliau tiba di sebuah bukit berhutan yang kini dikenal sebagai Goa Kreo. Di tempat itulah ia bertemu empat ekor kera dengan warna berbeda; merah, hitam, putih, dan kuning yang menawarkan bantuan untuk menebang dan mengangkut kayu.
Setelah pekerjaan selesai, sebagian kayu tertinggal di lokasi tersebut. Sunan Kalijaga kemudian memerintahkan keempat kera itu untuk menjaga kayu tersebut dan melindungi kawasan sekitarnya dari gangguan manusia. Ia berpesan agar tempat itu dinamakan Kreo, berasal dari kata mangreho yang berarti “peliharalah” atau “jagalah”. Sejak saat itu, masyarakat setempat memercayai bahwa roh keempat kera penjaga itu masih menjaga kawasan Goa Kreo.[2]
Sebagai bentuk penghormatan, masyarakat setiap tahun mempersembahkan sesaji berupa buah-buahan, sayur-mayur, nasi bungkus (sego kethek), serta gunungan hasil panen. Sesaji ini diarak dari balai desa menuju Goa Kreo diiringi doa dan kesenian rakyat. Tradisi tersebut dimaksudkan untuk menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan makhluk penjaga gaib yang dipercaya melindungi wilayah mereka.[3]
Pelaksanaan tradisi
Upacara Sesaji Rewanda dilaksanakan setiap hari ketiga setelah Idulfitri, yang dianggap waktu tepat untuk bersyukur setelah menyelesaikan ibadah Ramadan. Prosesi dimulai sejak pagi hari di Desa Kandri, dengan persiapan sesaji oleh warga setempat. Gunungan berisi hasil bumi seperti pisang, kelapa, jagung, sayuran, dan umbi-umbian dihias dengan warna cerah dan diangkat oleh para pemuda desa. Di barisan depan terdapat kelompok penari yang menampilkan Tari Sesaji Rewanda, yaitu tarian kreasi baru yang menggambarkan gerak lincah kera dan kegembiraan masyarakat menyambut panen.[1]
Arak-arakan kemudian berjalan menuju kawasan Goa Kreo yang berjarak sekitar dua kilometer dari pusat desa. Sepanjang jalan, warga menabuh gamelan dan menyanyikan tembang Jawa bertema syukur. Setibanya di Goa Kreo, sesaji diletakkan di pelataran dan didoakan oleh tokoh adat serta perangkat desa. Doa dipanjatkan untuk keselamatan masyarakat, keberkahan hasil bumi, serta kelestarian alam dan kawanan kera penghuni Goa Kreo.[2]
Setelah doa selesai, gunungan dibagikan kepada warga dan wisatawan yang hadir sebagai simbol berbagi rezeki. Acara kemudian dilanjutkan dengan pentas seni rakyat seperti karawitan, tari tradisional, dan pementasan drama legenda Goa Kreo. Dalam konteks modern, tradisi ini juga menjadi bagian dari agenda wisata budaya Kota Semarang dan program pelestarian budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Pemerintah daerah, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), dan lembaga pendidikan turut berperan menjaga kesinambungan tradisi ini sebagai bagian dari identitas masyarakat Desa Kandri.[1]
Rujukan
- ^ a b c Usrek, Tani Utina (2018). "Peran Masyarakat Kandri dalam Mengembangkan Potensi Seni pada Pariwisata di Desa Kandri Kecamatan Gunungpati Kota Semarang". Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni. 3 (2): 121–134.
- ^ a b Sifa, Destry Fauzia; Rais, Wakit Abdullah; Purnanto, Dwi (2021). "Reflections of Gunungpati Society's Lexicon on the Folklore of Goa Kreo in Semarang City as Petilasan Sunan Kalijaga (Ethnolinguistic Studies)". ELLiC Proceedings. 4: 274–279.
- ^ Lattifah, Tunimah; Nursyahidah, Farida; Albab, Irkham Ulil (2024). "Pengembangan Hypothetical Learning Trajectory Materi Kerucut Berkonteks Tradisi Sesaji Rewanda Menggunakan PMRI Berbantuan Adobe Animate". Aksioma: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika. 15 (1): 69–78.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.