Alie Begente

Alie Bagente atau Ali Begente adalah makanan tradisional khas Betawi yang terbuat dari kerak (sisa nasi yang mengeras di pantat kuali ketika menanak) yang dikeringkan, kemudian digoreng, dan disiram kinca (gula merah). Makanan ini merupakan campuran dari China, Arab, Jawa dan Betawi.[1]

Asal usul

Menurut sejarah nama alie bagente tak lepas dari orang Arab asli yang menyebut “Ali bah ente” pada tahun 70-an. Lelaki ini sangat menyukai makanan tersebut sehingga kerap kali membuat ali bagente. Ali yang merupakan orang Arab asli ini menyebut “Ali bah ente” yang artinya Ali cinta kamu. Dari situlah yang kemudian semua orang di kala itu mengatakan ali bagente.[2]

Pada mulanya, ali bagente merupakan hidangan ringan rakyat yang selalu hadir di bulan Ramadan. Pembuatannya yang mudah dan sederhana dan bahannya yang murah memicu pemanfaatan sisa-sisa nasi yang tak habis makan.[2] Jajanan ini merupakan makanan campuran dari China, Arab, Jawa, dan Betawi. Dahulu, komunitas Arab-Betawi banyak yang bermukim di daerah Kebon Pala (kawasan Tanah Abang) dan Kebon Nanas (kawasan Jatinegara). Khusus etnis Arab yang berasal dari Pekalongan, ketika pindah ke Jakarta mereka kebanyakan bermukim di daerah Condet Batuampar.[3][4]

Masyarakat Betawi tempo dulu kerap memasak nasi dengan menggunakan kuali. Hal ini membuat nasi berwarna kecoklatan dengan beberapa bagiannya yang cukup keras. Sementara itu, bagian bawahnya gosong karena menjadi bagian yang langsung terkena panas api. Nasi yang keras dan berwarna kecokelatan itulah yang dijadikan ali bagente. Orang-orang menyebut nasi tersebut tak layak disajikan di atas meja makan, sehingga diubah menjadi camilan sederhana.[3]

Cara Membuat

Cara membuat ali bagente cukup sederhana. Nasi gosong terlebih dahulu dijemur hingga kering atau mengeras, lalu digoreng hingga matang. Tak berhenti di situ saja. Untuk menambah rasa, maka kala itu mengolah gula dan air matang yang dimasak hingga mengental. Nasi goreng tersebut dimasukkan ke dalam gula dan didiamkan hingga dingin.[2] Untuk menambah rasa, mereka menambahkan gula yang telah diolah dengan air hingga mengental. Ali begante dimasukkan ke dalam gula dan didiamkan hingga dingin sebelum disantap.[3]

Referensi

  1. ^ Saputra, Rendra (2015-04-12). "Ali Bagente, Kudapan Khas Betawi yang Tergusur Zaman". www.viva.co.id. Diakses tanggal 2025-06-20.
  2. ^ a b c "Ali Bagente, Jajanan Khas Betawi yang Legendaris". Seni Budaya Betawi. 2022-09-21. Diakses tanggal 2025-06-20.
  3. ^ a b c "Ali Bagente, Olahan Kerak Nasi Khas Betawi". liputan6.com. 2025-06-02. Diakses tanggal 2025-06-20.
  4. ^ "Ali Bagente, kuliner Betawi yang sudah punah » Budaya Indonesia". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2025-06-20.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.