Akseyna

Akseyna
LahirAkseyna Ahad Dori
(1996-06-02)2 Juni 1996
Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia
Meninggal26 Maret 2015(2015-03-26) (umur 18)
Depok, Jawa Barat, Indonesia
PendidikanUniversitas Indonesia (2013–2015)
Pekerjaan
  • Mahasiswa

Akseyna Ahad Dori (2 Juni 1996 – 26 Maret 2015), yang juga dikenal sebagai Ace, adalah seorang mahasiswa program studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia angkatan 2013. Ia menjadi perhatian publik nasional setelah jenazahnya ditemukan mengambang di Danau Kenanga, Universitas Indonesia pada 26 Maret 2015.[1]

Hingga saat ini, kematian Akseyna tetap menjadi salah satu kasus tidak terselesaikan (cold case) paling terkenal di Indonesia, dengan perdebatan berkepanjangan mengenai apakah ia meninggal karena bunuh diri atau pembunuhan.

Latar belakang dan pendidikan

Akseyna Ahad Dori lahir di Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai putra kedua dari empat bersaudara pasangan Marsekal Pertama TNI (Purn.) Mardoto dan Karimatul Ummah.[1][2] Ia dikenal sebagai sosok yang berprestasi di bidang akademik, khususnya dalam ilmu sains. Sebelum menempuh pendidikan tinggi di Universitas Indonesia (UI) di Depok, Jawa Barat, ia merupakan alumnus SMA Negeri 8 Yogyakarta dan pernah menjadi salah satu peserta Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Biologi.

Kematian

Penemuan jenazah

Pada Kamis, 26 Maret 2015, sesosok jenazah pria ditemukan mengambang di Danau Kenanga UI oleh seorang kebersihan universitas. Saat ditemukan, jenazah tersebut masih mengenakan pakaian lengkap dan ransel yang diisi dengan beberapa batu konblok serta kerikil. Identitas jenazah tidak langsung diketahui karena tidak adanya dokumen pengenal di tubuh korban.

Identitas jenazah baru teridentifikasi secara resmi sebagai Akseyna pada tanggal 30 Maret 2015, setelah pihak keluarga mendatangi Rumah Sakit Polisi Pusat Raden Said Sukanto di Kramat Jati, Jakarta Timur, untuk melakukan pencocokan fisik dan barang-barang milik korban.

Penyelidikan

Dugaan awal: Bunuh diri

Pada awal penemuan, Kepolisian Resor Metro Depok sempat menduga bahwa Akseyna melakukan aksi bunuh diri. Dugaan ini diperkuat oleh temuan sebuah surat wasiat di kamar kos Akseyna yang bertuliskan: "Will not return for please don't search for existence, my apologies for everything contents."[3]

Pengalihan status: Pembunuhan

Setelah dilakukan penyelidikan lebih mendalam dan autopsi oleh tim forensik, pihak kepolisian mengubah kesimpulan dari bunuh diri menjadi dugaan pembunuhan. Beberapa bukti penting yang mendasari perubahan status ini antara lain:

  • Hasil Autopsi: Ditemukan luka memar akibat hantaman benda tumpul pada bagian wajah dan tubuh Akseyna. Selain itu, ditemukan pasir dan air di dalam paru-parunya, yang mengindikasikan bahwa ia masih bernapas saat masuk ke dalam air (kemungkinan dalam kondisi tidak sadar atau lemas).
  • Analisis Grafologi: Analisis terhadap surat wasiat yang ditemukan di kamar kos menunjukkan adanya ketidakcocokan tanda tangan dan tulisan tangan. Ahli grafologi menyimpulkan bahwa surat tersebut kemungkinan besar ditulis oleh dua orang yang berbeda atau dipalsukan.
  • Kondisi Ransel: Batu konblok diletakkan di dalam ransel dengan posisi gendong belakang, yang dinilai tidak lazim untuk metode bunuh diri tenggelam secara sukarela, serta adanya robekan pada bagian belakang sepatu yang mengindikasikan korban sempat diseret.

Hambatan penyelidikan

Meskipun status kasus telah ditingkatkan menjadi pembunuhan, penyelidikan mengalami berbagai hambatan teknis. Tempat Kejadian Perkara (TKP) di Danau Kenanga maupun kamar kos Akseyna sempat dimasuki oleh orang-orang yang tidak berkepentingan sebelum sterilisasi penuh dilakukan oleh polisi, sehingga mengaburkan potensi jejak DNA atau bukti forensik lainnya. Puluhan saksi, termasuk rekan kuliah, pihak universitas, dan pemilik kos, telah diperiksa, namun kepolisian belum berhasil menetapkan satu pun tersangka.

Dampak dan peninggalan

Kasus kematian Akseyna memicu diskusi publik yang luas mengenai sistem keamanan di lingkungan kampus serta profesionalisme investigasi kriminal di Indonesia. Setiap tahunnya, pihak keluarga—terutama sang ayah, Mardoto—bersama Aliansi Mahasiswa UI aktif mengadakan aksi peringatan dan menuntut keadilan serta transparansi dari pihak kepolisian dan birokrasi universitas demi menuntaskan teka-teki kematian Akseyna.

Referensi

  1. ^ a b Hayati, Istiqomatul (2015-06-04). "Ini Status Ayah di Ulang Tahun ke-19 Akseyna". Tempo (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-04-03.
  2. ^ Baiduri, MC Nieke Indrietta (2015-04-02). "Firasat Ibu Akseyna, Mahasiswa yang Tenggelam di UI". Tempo (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-04-03.
  3. ^ R, Mei Amelia. "Pesan Terakhir Mahasiswa FMIPA UI: Will Not Return, Please Don't Search". detiknews. Diakses tanggal 2026-05-24.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.