Matagi

Matagi (マタギ, atau lebih jarang 又鬼) adalah suku pemburu tradisional di musim dingin yang menetap di Wilayah Tōhoku di utara Jepang. Mereka banyak ditemui di Prefektur Akita, tempat asal anjing Akita terutama di kota Ani.[1] Selain itu, mereka juga menghuni hutan Shirakami-Sanchi di antara Prefektur Akita dan Aomori, beserta sejumlah daerah lain di Jepang. Tercatat sebagai kelompok tersendiri sejak abad pertengahan, orang-orang Matagi hidup dengan berburu rusa dan beruang hingga kini, dengan kebudayaan yang memiliki banyak kesamaan dengan praktik pemujaan beruang orang Ainu.
Seiring diperkenalkannya senjata api modern pada abad ke-19, dan produksi massal peluru isi ulang yang dimulai dengan senapan Murata, kebutuhan untuk berburu beruang secara berkelompok telah berkurang, yang menyebabkan kemunduran budaya Matagi.
Perkampungan Matagi dapat ditemukan di Nishitsugaru dan Nakatsugaru (Prefektur Aomori), Kitaakita dan Senboku (Prefektur Akita), Waga (Prefektur Iwate), Nishiokitama dan Tsuruoka (Prefektur Yamagata), dan Murakami dan Nakauonuma (Prefektur Niigata). Desa-desa orang Matagi yang terkenal dan sering dikunjungi wisatawan terdapat di Ani di lereng barat Gunung Moriyoshi di Prefektur Akita, dan beberapa perkampungan di lereng timur Gunung Chōkai di Prefektur Akita dan Yamagata.
Etimologi dan bahasa
Terdapat beberapa teori mengenai asal-usul kata Matagi. Salah satu teori yang terkenal adalah bahwa kata tersebut berasal dari kata dialek Tōhoku yamadachi (山立, "pemburu"). Ada juga hipotesis bahwa kata "matagi" berasal dari kata Ainu matangi atau matangitono, yang berarti "manusia musim dingin" atau "pemburu". Teori yang terakhir didukung oleh keberadaan sejumlah kosakata tentang perburuan dalam dialek Matagi yang berasal dari bahasa Ainu.[2][3]
Asal-usul etnis
Menurut Lee dan Hasegawa, orang Matagi merupakan keturunan dari para pemburu dan nelayan berbahasa Ainu yang bermigrasi dari Hokkaido ke utara Honshu. Mereka juga menyumbang sejumlah toponimi dan istilah Ainu yang berkaitan dengan fitur geografi, hewan buruan, dan air kepada orang-orang berbahasa Japonik.[4]
Praktik berburu
Spiritualitas
Orang Matagi memiliki kebudayaan yang unik yang berpusat pada keyakinan terhadap dewa gunung dan hukum adat yang khas.[5][6] Bagi mereka, berburu adalah cara hidup, bukan cabang olahraga.[7] Hewan yang diburu dianggap sebagai hadiah dari dewata gunung, dan mereka memiliki cara tertentu untuk menyembelih dan mempersiapkan hewan tersebut. Setelah hewan dibunuh, hewan tersebut dipuji, dan rohnya dihibur. Kemudian, untuk mengganti kehilangan nyawa, semua bagian tubuhnya, mulai dari bulu hingga jeroan mereka manfaatkan.[8] Penekanan diberikan pada tindakan mengambil nyawa hewan melalui upacara dan refleksi, yang kemudian diteruskan dari generasi ke generasi.[9]
Dalam sejarah, masyarakat Jepang arus utama memandang masyarakat Matagi sebagai orang-orang yang "tidak suci" lantaran kebiasaan mereka memakan banyak hewan yang dianggap kotor dan mencemari ritual.[8] Dalam gulungan makimono yang dimiliki oleh banyak keluarga Matagi, tercatat legenda mengenai leluhur yang diberi izin tertentu untuk berburu dan memakan hewan-hewan itu karena sang leluhur memberikan pelayanan khusus kepada dewi gunung Yamanokami pada masa sulit.[10]
Matagi pada masa kini
Orang Matangi tinggal di kampung-kampung kecil di hutan bewuk di gunung-gunung Tōhoku dan bertani selama musim tanam dan panen. Pada musim dingin dan awal musim semi, mereka membentuk kelompok berburu yang bisa menghabiskan waktu hingga berminggu-minggu di belantara.[9]
Di masa modern, beberapa orang Matagi terlibat konflik dengan penggiat lingkungan, menyusul kekhawatiran akan penggundulan hutan dan menurunnya populasi hewan tertentu.[11] Mereka tidak lagi berburu kambing-hutan jepang yang dilindungi, tetapi masih berburu beruang hitam jepang dengan izin khusus.
Dalam budaya populer
Orang Matagi muncul dalam novel biografi Dog Man: An Uncommon Life on a Faraway Mountain karya Martha Sherrill, yang menceritakan seorang Matagi bernama Uesugi, yang menjadi teman si tokoh utama yang berupaya melestarikan anjing ras Akita, yang digunakan secara luas untuk berburu oleh Matagi.
Seorang Matagi berperan sebagai tokoh utama dalam novel The Girl with the Face of the Moon karya Ellis Amdur. Dalam serial manga Golden Kamuy, seorang pemburu Matagi bernama Tanigaki Genjirou ditampilkan secara menonjol, beserta budaya Ainu secara umum.[12] Seri manga Shikanoko Nokonoko Koshitantan menampilkan karakter Matagi bernama Souichirou Kumatori yang mencoba memburu tokoh utama, seekor rusa, untuk prosesi festival lokal di kampung halamannya di Hokkaido.
Tokoh utama, Hitomi, dalam serial buku komik dengan judul yang sama karya HS Take dan Isabella Mazantini digambarkan sebagai seorang Matagi.[13]
Referensi
- ^ Dias, Anura (2023-08-30). "Matagi: Local Protectors of the Forest in Northeastern Japan". JAPAN RAIL CLUB (dalam bahasa American English).
- ^ Masaki, Kudō (1989). Jōsaku to emishi. Kōkogaku Library. Vol. 51. New Science Press. hlm. 134.
- ^ Tanigawa, Ken'ichi (1980). Collected works. Vol. 1. hlm. 324–325.
- ^ de Graaf, Tjeerd (18 Maret 2015). Documentation and Revitalisation of two Endangered Languages in Eastern Asia: Nivkh and Ainu.
- ^ Schnell 2020, hlm. 166.
- ^ Blacker 1997, hlm. 178–179.
- ^ Schnell 2020, hlm. 171–172.
- ^ a b Blacker 1997, hlm. 179.
- ^ a b "Learn about the traditions of the Matagi, who live in harmony with the forest of Shirakami-Sanchi". World Natural Heritage in Japan. Tokyo Convention & Visitors Bureau.
- ^ Blacker 1997, hlm. 179–180.
- ^ Schnell, Scott (14 Maret 2010). Matagi: Hunters as Intermediaries Between 'Wild' and 'Domestic.'. Japan Anthropology Workshop.
- ^ Nanda, Nicholas Vazquez (13 April 2025). "Matagi - The Forest and the Bear". Yoko Gao.
- ^ Garofalo, Daniele (22 September 2023). ""Hitomi": una storia di vendetta e samurai" ["Hitomi": A Story of Revenge and Samurai]. Lo Spazio Bianco (dalam bahasa Italia).
Daftar pustaka
- Blacker, Carmen (1997). "The Mistress of the Animals in Japan: Yamanokami". Dalam Billington, Sandra; Green, Miranda (ed.). The Concept of the Goddess. Routledge. hlm. 178–185. doi:10.4324/9780203456385. ISBN 978-0203456385.
- Schnell, Scott (22 September 2020). "Kuma Matsuri: Bear Hunters as Intermediaries between Humans and Nature" (PDF). Journal of Religion in Japan. 9 (1–3): 165–194. doi:10.1163/22118349-00901001.
Bacaan lebih lanjut
- 後藤 Gotō, 興善 Kōzen (1989). 又鬼と山窩 Matagi and Sanka. Japan: 批評社 Hihyōsha. ISBN 4826502893.
- 工藤 Kudō, 隆雄 Takao (2020). マタギに学ぶ登山技術 Learning from the Matagi - Mountain climbing techniques. Japan: ヤマケイ新書 Yamakei Shinsho. ISBN 978-4635040839.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.