Masak Indong


Masak Indong merupakan rangkaian ritual adat suku Tidung yang dilakukan untuk menyambut kelahiran bayi di Kabupaten Malinau. Bayi yang baru lahir akan dinaikkan ke dalam ayunan sebagai cerminan rasa syukur atas kelahiran bayi yang menandakan bertambahnya anggota baru didalam keluarga.

Tradisi ini dilakukan dengan cara bayi dinaikkan ke atas ayun sebanyak 13 kali secara bergantian oleh orang-orang tua/bersuami atau orang tua leluhur yang masih merupakan garis kebudayaan leluhur suku Tidung.[1] Tradisi ini dilakikan dengan tujuan agar bayi yang telah lahir akan terlindungi kehidupannya dan dilimpahkan rezekinya. Gunting rambut merupakan tradisi mencukur rambut bayi juga dilakukan sebagai syarat sejalan dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama yang dijunjung tinggi.[2] Hal ini juga sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad SAW yang diiringi shalawat nabi, serta musik hadrah yang dimainkan oleh 5 hingga 6 orang perempuan. Bayi akan dipotong rambutnya dengan mengelilingi para tokoh agama, keluarga (kakek/buyut), dan tokoh masyarakat lainnya.[1]

Makna

Gunting rambut ini mengandung makna agar bayi dapat memotong rambutnya di tempat lain tanpa perlu menunggu rambut panjang (sebagai syarat) atau mengikuti tradisi dalam suku Tidung. Melalui acara pemotongan rambut ini, bayi diberkahi doa-doa dari orang yang memotong yang dipercayai bahwa nantinya memberikan kecerdasan yang bermanfaat baik untuk dirinya maupun orang lain. Acara semacam ini umumnya dikenal sebagai tasmiyah (menurut syariat Islam), tetapi dalam tradisi suku Tidung disebut masag indong dan gunting rambut.[1]

Pelaksanaan

Pada pelaksanaannya disetiap daerah memiliki cara yang berbeda-beda namun mempunyai definisi yang sama. Kebiasaan sehari-hari masyarakat Suku Tidung gemar melakukan gotong royong dalam setiap kegiatan, Suku Tidung dari zaman dulu hingga sekarang dalam mata pencahariannya sebagai nelayan maupun petani masih menggunakan cara tradisional. Keragaman budaya dan suku di Indonesia menunjukan bahwasanya Indonesia kaya Sumber Daya Manusia (SDM) serta Sumber Daya Alam (SDA). Salah satu masyarakat yang mempertahankan berbagai macam tradisional yang alami adalah Suku Tidung.[3]

Proses tradisi budaya masak indong dilaksanakan setelah bayi diberi tepung tawar, bayi tersebut akan dibawa ke ruangan dan diserahkan kepada pengguling (dukun beranak) untuk dimasukkan ke ayunan. Setelah itu, bayi diangkat kembali untuk diberikan kepada para tetua agar bisa dimasukkan ke ayunan lagi. Proses ini berlangsung terus-menerus hingga semua kerabat mendapat kesempatan untuk meletakkan bayi di ayunan. Hal ini melambangkan doa dan kebahagiaan dari keluarga. Ayunan yang digunakan terbuat dari papan kayu persegi panjang yang dihias dengan ukiran. Keempat sisinya diikat dengan rotan atau tali, kemudian dihubungkan dengan tali yang menyatukan bagian atas. Bagian atas terbuat dari potongan pohon nibung yang sudah tua. Tempat tidur bayi (papan ayun menyerupai perahu) dilengkapi dengan dian (lilin kuning) yang dinyalakan dari dua sisi dekat kepala dan dua sisi dekat kaki. Agar bayi terjaga dengan aman, bayi tersebut diberi kandit (babat) berwarna kuning yang mengikatnya supaya tidak bergerak terlalu bebas. Selain itu, kandit berwarna kuning ini juga melambangkan doa agar bayi tumbuh menjadi anak yang berguna bagi tanah air, bangsa, dan agama.[1]

Referensi

  1. ^ a b c d Apriani, Eva; Pamuji, Siti Sulistyani (2024). Sastra Lisan Tidung. Jejak Pustaka. hlm. 119–120. ISBN 9786231838131. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ^ Anggri (31 Oktober 2019). "Atraksi Budaya Gunting Abuk Masak Indong Dilestarikan". www.prokal.co. Diakses tanggal 19 Juni 2025.
  3. ^ Islammiaty, Melly (2023). "Kajian Etnobotani Potensi Tanaman Obat Suku Tidung di Desa Sepala Dalung Kecamatan Sesayap Hilir Kabupaten Tana Tidung" (PDF). Kajian Etnobotani Potensi Tanaman Obat Suku Tidung di Desa Sepala Dalung Kecamatan Sesayap Hilir Kabupaten Tana Tidung: 11.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.