Mandi-Mandi

Mandi-Mandi Kampung Tugu

Mandi-Mandi adalah sebuah tradisi adat tahunan yang diselenggarakan oleh masyarakat Komunitas Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT) di Kampung Tugu, Cilincing, Jakarta Utara. Tradisi ini dirayakan sebagai cara untuk menandai awal tahun baru.[1] Mandi-Mandi masuk sebagai salah satu Kebudayaan Takbenda dari Jakarta dan teregistrasi secara resmi oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia dengan nomor register 362/M/2019.[2]

Etimologi dan Makna

Meski secara harfiah mandi berarti membersihkan diri dengan air, dalam konteks tradisi ini, pelaksanaan mandi tidak diterjemahkan secara harfiah sebagai mandi menggunakan air. Sekretaris Ikatan Keluarga Besar Tugu, Arthur James Michiels, menjelaskan bahwa kata Mandi berasal dari kata "mandar" dalam bahasa Portugis. mandar berarti mengirim perintah. Dalam pesta adat Mandi-Mandi, perintah ini adalah untuk saling mengasihi dan memaafkan.[3] Tradisi ini dimaknai sebagai momen untuk menebus dosa dan meminta maaf atas kesalahan selama setahun sebelumnya. Hal ini juga menjadi simbol penyucian diri dan kebersihan hati. Warga berkumpul untuk saling memaafkan dan membuka lembaran baru di tahun yang baru dengan hati yang bersih. Selain itu, Mandi-Mandi juga menandakan kesiapan warga untuk menyambut tahun yang baru, mempererat hubungan antarwarga, dan mencerminkan semangat kekeluargaan yang kental di komunitas Kampung Tugu.[4]

Sejarah Mandi-Mandi

Tradisi Mandi-Mandi sangat lekat dengan warisan budaya Portugis di Kampung Tugu.[5] Masyarakat Kampung Tugu adalah keturunan dari kaum Mardijkers, yaitu orang-orang yang dimerdekakan. Kaum Mardijkers merupakan mantan tentara dan tawanan perang Portugis yang dikalahkan oleh Belanda. Mereka adalah etnis campuran antara Portugis dengan orang-orang Coromandel, Bengali, serta Maluku.[4]

Pada tahun 1661, kaum Mardijkers dibebaskan dengan syarat berpindah keyakinan dari Katolik menjadi Protestan. Sejak saat itu, mereka dikenal sebagai De Mardijkers dan menghilangkan identitas Portugis mereka, memiliki status sosial yang sama dengan etnis pribumi. Mereka kemudian terpencar, dengan sebagian memilih menetap di Batavia dan sebagian lagi di Kampung Tugu, di mana mereka memiliki ikatan sosial yang lebih besar. Gereja Protestan Tugu, yang dibangun sejak tahun 1747 dan diresmikan pada 1748, merupakan salah satu peninggalan Portugis yang tersisa di Kampung Tugu. Tradisi ini konon sudah eksis sejak tahun 1930.[4]

Pelaksanaan Ritual

Mandi-Mandi dilaksanakan setiap hari Minggu pertama di awal tahun. Pada perayaan ini, warga Kampung Tugu saling mencorengkan bedak ke wajah sesama warga. Bedak yang digunakan hanyalah bedak putih, berbeda dengan Festival Holi di India yang menggunakan bubuk warna-warni dari bahan alami.[4] Prosesi dimulai dengan tetua adat yang menginisiasi pengolesan bedak ke wajah salah satu peserta keturunan Portugis. Setelah itu, semua peserta yang hadir boleh saling menorehkan bedak di wajah satu sama lain. Acara ini berlangsung dengan nuansa kebersamaan dan diiringi oleh alunan musik keroncong, khususnya Keroncong Tugu. Lagu Mande-Mande (Mandi-Mandi) juga telah diciptakan khusus untuk tradisi ini agar dikenal sepanjang masa.[6] Pada awalnya, tradisi ini dilakukan secara tertutup karena dikhawatirkan mengurangi nilai dan makna sakralitasnya. Namun, sejak tahun 1990, siapapun diperbolehkan berpartisipasi dan menyaksikan tradisi ini.[4]

Perkawinan Budaya Betawi-Portugis

Ritual Mandi-Mandi tidak sepenuhnya mencerminkan budaya Portugis murni, melainkan telah berkolaborasi dengan budaya Betawi. Perpaduan budaya ini terlihat dari berbagai aspek. Pakaian Kaum Mardijkers terkadang mengenakan kebaya, sementara pemusik keroncong mengenakan baju koko putih ala Betawi yang dipadukan dengan topi pet dan syal Eropa. Kuliner khas yang disajikan meliputi Gado-gado siram ala Kampung Tugu dan kue basah Udang Pisang, yang merupakan makanan khas Mardijkers.[5] Orang Tugu sendiri diakui sebagai komunitas keturunan Portugis yang mengaku sebagai orang Betawi.[4]

Catatan kaki

Daftar pustaka

Sumber daring

  • "Mandi-Mandi". Budaya Kita Kemendikbud.
  • "Foto: Tradisi Mandi-Mandi Awali Tahun Baru di Kampung Tugu". Kumparan Travel. 2025-01-05. Diakses tanggal 2025-06-20.
  • "Mandi-Mandi Adat Kampung Tugu, Sebuah Cerita tentang Perintah". Tempo. 2020-01-06. Diakses tanggal 2025-06-20.
  • "Holi-nya Jakarta: Mandi-Mandi, Tradisi Kampung Tugu yang Penuh Makna". Seni Budaya Jakarta. 2024-12-04. Diakses tanggal 2025-06-20.
  • Kanaka, Weka (2023-01-09). "Mandi-mandi Tak Hanya Dinikmati Warga Kampung Portugis, Bisa Juga Buat Turis Baca artikel detikTravel, "Mandi-mandi Tak Hanya Dinikmati Warga Kampung Portugis, Bisa Juga Buat Turis". Detik Travel. Diakses tanggal 2025-06-20.
  • "Mandi-Mandi". Warisan Budaya. Diakses tanggal 2025-06-20.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.