Hiem

Hiem adalah salah satu sastra lama dalam masyarakat Aceh yang berbentuk lisan. Hiem merupakan suatu ungkapan lisan tradisional sejenis teka-teki yang menggunakan satu atau lebih unsur pelukisan, unsur jawaban, dan kadangkala jawaban tidak disebutkan sehingga harus diterka.[1]

Hiem (teka-teki) digunakan masyarakat Aceh untuk mengisi waktu senggang. Biasanya digunakan ketika mereka berkumpul seusai menanam padi atau setelah seharian bekerja. Salah seorang di antara mereka menyampaikan teki teki dan yang lainnya diminta untuk menjawab teka teki tersebut. si penjawab teka teki tidak harus pada saat itu menjawab teka teki yang dilontarkan oleh si pembuat teka-teki tersebut. si penjawab diberi waktu untuk memikirkan jawaban yang tepat dari teka teki tersebut. semakin sulit teka teki itu dijawab semakin ramai suasana kegiatan tersebut.[2]

Ciri khas Hiem

Hiem merupakan sastra lisan mirip pantun, diucapkan dengan irama tertentu, tetapi tidak sejalu bersajak. Isinya dapat terdiri atas satu baris, dua baris, tiga baris, empat baris, bahkan enam baris. Selain seni adu pikir dan olah kata, hiem berfungsi sebagai hiburan. Sebagai teka-teki, ber-hiem berlangsung berbalasan antara dua pihak secara bergantian (sebagai penanya dan penjawab).[3]

Hiem adalah salah satu wujud tradisi lisan khas Aceh berupa seni adu pikir. Hiem hampir mirip seperti teka-teki, tetapi dalam budaya Aceh, hiem memiliki aturan seperti pantun atau dalam budaya meuhiem dikenal istilah bahasa meuhantok, yaitu bahasa yang saling beradu, ber-sajak dan ber-rima.[4]

Unsur budaya dalam Hiem[1]

Dalam masyarakat Aceh nilai-nilai hiem memberikan warna hampir dalam segala aspek kehidupan budaya, salah satunya adalah unsur budaya. Ada beberapa unsur budaya yang digunakan dalam pertanyaan dan jawaban hiem masyarakat Aceh.[1]

Unsur-unsur budaya tersebut adalah sebagai berikut :

1. Bahasa istilah

Pemakaian bahasa istilah yang dimaksud di sini adalah pemakaian bahasa Aceh yang tidak diketahui artinya secara leksikal. Bahasa istilah sengaja dipilih oleh pencipta h’iem untuk menciptakan kreasi dalam h’iem yang diciptanya. Selain itu, pemilihan bahasa istilah tersebut dipakai akibat tidak ada pilihan bahasa yang tepat, sehingga bahasa yang digunakan sulit dipahami, bahkan oleh masyarakat Aceh sendiri.

2. Peralatan atau benda tradisional

Benda tradisional yang ada pada hiem berfungsi sebagai sistem peralatan hidup yang digunakan oleh masyarakat Aceh. Peralatan atau benda tersebut seperti bubèe, perangkap ikan tradisional yang terbuat dari rangkaian bambu dan ditempatkan pada alur, rawa atau payau. Kemudian panyöt ‘teplok’, benda bersumbu dan diisi minyak untuk alat atau lampu penerang. Jeu, jaring atau jala untuk menangkap ikan. Adapun gandoe, alat tradisional untuk berburu atau penghalau binatang yang dianggap hama.

3. Makanan atau cemilan tradisional

Makanan atau cemilan yang terdapat dalam pertanyaan dan jawaban h’iem semuanya merupakan makanan atau cemilan tradisional yang dikonsumsi oleh masyarakat Aceh. Makanan atau cemilan tradisional tersebut seperti bakông, tembakau yang umumnya dimasukkan para orang tua di antara gusi dan gigi sebagai salah satu jenis candu orang Aceh. Apam, kuliner tradisional yang terbuat dari tepung, berbentuk bulat, biasanya dimakan dengan kuah bersantan. Ranueb, cemilan komposisi daun sirih, pinang, dan kapur, lalu dikunyah untuk diisap airnya. Eumpieng, makanan tradisional yang berbentuk pipih dan kering sejenis Quarker.

4. Tempat tinggal dan bangunan penting

Tempat tinggal dan bangunan sakral yang merupakan sistem peralatan hidup sebagai unsur-unsur kebudayaan masyarakat Aceh. Bangunan-bangunan yang terdapat dalam hiem merupakan bangunan penting yang digunakan masyarakat Aceh sebagai tempat tinggal atau beraktivitas. Bangunan itu seperti rumoh, rumoh Aceh, atau rumoh jambô.

Ancaman pelestarian

Mengingat pengaruh perkembangan zaman, bukan tidak mungkin unsur-unsur budaya yang terdapat dalam h’iem berangsur-angsur akan punah dan tidak dikenal lagi dalam tatanan kehidupan masyarakat Aceh. Upaya pelestarian tersebut salah satunya dapat diwujudkan melalui penyampaian h’iem-h’iem yang berisi unsur budaya tersebut oleh orang tua kepada anaknya dalam kehidupan sehari-hari.[1]

Referensi

  1. ^ a b c d "Unsur Budaya dalam H'iem". Serambinews.com. Diakses tanggal 2025-11-12.
  2. ^ "Badan Bahasa". dapobas.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 2025-11-12.
  3. ^ redaksi-bba (2019-04-09). "Jago Hiem atau Baca Naskah Lama Aceh? Yuk Ikuti Lomba ini!". Balai Bahasa Provinsi Aceh (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-12.
  4. ^ Aceh, Budaya. "Cagar Budaya Aceh". Budaya Aceh. Diakses tanggal 2025-11-12.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.