Gasing Kepri
Gasing Kepri adalah permainan tradisional gasing yang khas dari Kepulauan Riau (KEPRI). Gasing Kepri merupakan salah satu bentuk permainan tradisional yang dikenal oleh hampir semua suku bangsa di Indonesia. Gasing dimainkan dengan cara dipukulkan sedemikian rupa, menurut teknik tertentu, sehingga ia berputar di atas suatu landasan. Bentuk gasing yang berkembang di Indonesia sangat beragam. Ada yang berbentuk bulat, lonjong, kerucut, ceper, silinder, dan bentuk-bentuk lainnya sesuai kekhasan suatu daerah atau etnis.[1]
Macam-macam Gasing di Kepulauan Riau
Macam-macam jenis Gasing Kepri yang dikenal di masyarakat Kepulauan Riau sesuai dengan jenis dan fungsi, tempat atau daerah gasing kepri adalah sebagai berikut :
A. Nama gasing menurut Jenis dan Fungsi :
- Gasing Penendin, bentuk badannya lebih tipis (ceper) fungsinya untuk bertendin yang dilaksanakan ketika akan berpangkak gasing,untuk menentukan siapa yang menang ditetapkan memangkak terlebih dahulu.
- Gasing Pemangkak, bentuk badannya dibuat lebih tebal dengan sanding talam bagian bawahnya tajam, fungsi gasing ini untuk mangkak atau menghantam gasing lawan.
- Gasing Penahan, bentuk badannya dibuat lebih rendah sedikit atau sama dengan gasing pemangkak disesuaikan dengan keinginan pemilik dengan bening cudui, sisi talam bawah gasing ini dibuat lebih kebul, dan fungsinya untuk menahan ketika berpangkak.[1]
B. Nama gasing menurut Tangan :
- Gasing Paras Gantang: nama Paras Gantang diambil dari nama alat menakar untuk beras yang berbentuk silinder, badan gasing di buat dengan sisi badan atas dan sisi bawah sama besarnya (lurus) dengan bening atas agak datar (paras). Tangan ini biasanya dibuat untuk gasing pemangkak dan penendin.
- Gasing Tawak: Tangan gasing ini hampir sama dengan paras gantang, hanya saja gasing tangan ini bagian bawah agak kencup
- Gasing Batu Dacing: Gasing tangan badannya agak kecil di bagian atas dan agak kembang di bagian bawah menyerupai batu dacing, Tangan ini untuk gasing pemangkak.
- Gasing Janda Berias: Tangan gasing ini sisi bening atasnya di potong sedikit sehingga sisi beningnya menjadi bersegi yaitu sisi bening atas dan sisi badan, fungsinya untuk penendin pemangkak dan penahan.
- Gasing Limau Manis: Tangan gasing ini agak menyerupai buah limau (jeruk) dan cocok untuk gasing penahan atau gasing penendin.
- Gasing Berembang: Tangan Gasing ini hampir sama dengan tangan gasing limau manis, hanya saja bening atasnya agak lebih datar sedikit dari limau manis, Tangan ini untuk gasing penahan.
- Gasing Buah manggis: tangan gasing ini dibuat menyerupai buah manggis, badannya lebih tinggi sedikit dari gasing limau manis, gasing tangan ini cocok untuk gasing penahan.
- Gasing Tudung Jembut: Tangannya hampir mirip dengan tangan gasing buah manggis di gunakan untuk gasing penahan.
- Gasing Cantong (Jantung): tangan Gasing ini badannya tinggi dari sisi bening atas di buat tirus ke bawah dan ujung paling bawah dan ujung paling bawah langsung menjadi tungking mirip jantung pisang. Gasing ini kalau di Natuna biasanya hanya untuk mainan anak anak dan sangat jarang dimainkan oleh orang dewasa. Di Provinsi Bangka belitung gasing ini untuk semua orang. Sekarang sudah menjadi gasing standar nasional, sama dengan gasing berembang.[2]
C. Nama gasing menurut daerah asalnya :
- Gasing Bunguran: gasing bunguran atau gasing Natuna adalah gasing yang tumbuh dan berkembang dulunya di dua daerah yaitu Bunguran Barat dan Bunguran Timur. Gasing yang tumbuh dan berkembang di daerah ini lebih banyak jenis, fungsi dan tanganya setiap daerah memiliki ciri tersendiri, Gasing Bunguran memiliki kesamaan dengan gasing Anambas dari segi ukuran dan teknik mainkannya.
- Gasing Serasan: gasing yang tumbuh dan berkembang di daerah Kecamatan Serasan dan Kecamatan Subi bentuknya jauh lebih besar dengan diameter lebih kurang 6 -8 inci atau lingkaran lebih 24 inci dengan bobot kurang 1-1,5kg. Gasing serasan ada kemiripan dengan gasing Serawak dari Brunai Darussalam.
- Gasing Anambas: gasing yang tumbuh dan berkembang di Kepulauan Anambas, ukurannya sama dengan gasing Bunguran hanya saja mengenai tangannya terdapat banyak perbedaan dengan gasing Bunguran, Tangan Gasing Anambas boleh dikatakan tidak banyak hanya satu dua saja seperti tangan dan gasing penahan tidak ada beda tangan karena gasing pemangkak juga di pakai sebagai gasing penahan bahkan dipakai juga sebagai gasing penendin.
- Gasing Tambelan: gasing yang tumbuh dan berkembang di daerah Tambelan dan tangannya hampir mirip dengan gasing serasan dan gasing Kalimantan Barat.
- Gasing Belakangpadang: tangan gasing Belakangpadang banyak kesamaan dengan gasing Malaysia. Cara menggualnya adalah gual Sintak dan bermainnya di atas tanah.[2]
Pembuatan Gasing
Gasing merupakan permainan tradisional orang Melayu sejak dahulu kala. Gasing terbuat dari kayu stigi yang tumbuh di batu. Kayu ini bertekstur keras dan cocok untuk dibuat gasing, tetapi kayu ini susah didapat. Kemudian kayu Asam dan kayu Lebam juga bisa digunakan untuk membuat gasing karena mudah didapat. Cara membuatnya, kayu dikikis menjadi bentuk gasing. Untuk talinya dulu berasal dari kulit pohon Bebaru yang tumbuh di pantai, tetapi sekarang tali gasing bisa digunakan dengan tali nilon. Panjang tali sekitar satu meter.[3]
Permainanan gasing terus berkembang hingga sekarang. Gasing dibentuk bulat dan memiliki tiga bagian penting, yakni kepala, badan kemudian ujung bawah gasing. Di bagian bawah dibuat lekukan yang berfungsi untuk tali gasing. Untuk keseimbangannya, gasing diberikan paksi (besi yang diletakkan dibagian bawah gasing untuk keseimbangan) sehingga ketika diputar diatas lantai atau tanah, gasing akan seimbang. Seiring dengan perkembangan zaman, selain terbuat dari kayu kini gasing juga dibuat dengan plastik dan bahan lainnya.[3]
Gasing terbesar di Indonesia
Gasing terbesar di Indonesia berasal dari Provinsi Bangka Belitung, yang dibuat dari kayu menggeris (kompas arcyles) dengan berat 140 kilogram. Tinggi gasing 70 cm, garis tengah 70 cm, panjang tali gasing 40 cm, garis tengah 1/8 dan jumlah pemain 10 orang. Rekor lama berputar 3 menit, 7 detik. Gasing tersebut berada di Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Gasing merupakan permainan tradisional khas Melayu yang menjadi warisan budaya secara turun-temurun, khususnya di Kepulauan Riau. Warisan berharga tersebut harus dirawat, dilestarikan, dan dilindungi sebagai identitas asli budaya Melayu.[4]
Referensi
- ^ a b Khairani, Januarrini (30-08-2024). "Mengenal Permainan Tradisional Gasing Asal Kepri". rri.co.id. Diakses tanggal 15-11-2025.
- ^ a b "SiAPIK KEPRI". siapik.kepriprov.go.id. Diakses tanggal 2025-11-15.
- ^ a b disbudpar (2020-08-04). "Mengenal Permainan Gasing, Warisan Budaya Tak Benda dari Bumi Melayu - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam". Diakses tanggal 2025-11-15.
- ^ antaranews.com (2025-03-10). "Menteri Fadli Zon melihat gasing terbesar di Indonesia ada di Kepri". Antara News. Diakses tanggal 2025-11-15.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.