Cemme Passili

Cemme Passili adalah tradisi upacara pembersihan diri yang berasal dari masyarakat Bugis di Desa Ulo, Kecamatan Tellu Siattinge, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Indonesia.[1] Tradisi ini dilakukan setiap tahun sebagai bentuk doa bersama agar masyarakat terhindar dari bencana dan memperoleh keberkahan hidup. Dalam bahasa Bugis, cemme berarti “mandi”, sedangkan passili berarti “membersihkan diri”.[2]

Asal-usul dan Sejarah

Tradisi Cemme Passili berawal dari kisah lama ketika Desa Ulo mengalami kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan dan gagal panen. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, salah satu raja di masa itu bermimpi agar penduduk melakukan doa di tepi sungai dan mandi di air yang mulai mengering. Setelah ritual tersebut dilaksanakan, hujan pun turun dan desa kembali subur. Sejak peristiwa itu, upacara Cemme Passili kemudian ditetapkan sebagai tradisi tahunan untuk memohon turunnya hujan dan membersihkan diri dari kesialan.[2]

Dalam pelaksanaan awalnya, masyarakat Desa Ulo berkumpul di tepi sungai dengan membawa berbagai sesajen dan bahan makanan tradisional. Mereka berdoa bersama di bawah pimpinan sandro wanua (tetua adat) dan Datu Salimang, raja pada masa itu. Upacara ini dilakukan setiap tahun pada bulan November, khususnya pada hari Senin, dan dikenal sebagai bagian dari warisan budaya agraris masyarakat Bugis.[2]

Pelaksanaan Upacara

Upacara Cemme Passili dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh adat dan tokoh agama. Setelah doa, para tetua adat dan kepala desa akan diceburkan ke sungai sebagai simbol pembersihan diri.[1] Selanjutnya, warga lain mengikuti dengan bergantian mandi di sungai sambil bersorak dan bermain air. Tradisi ini diiringi suasana meriah yang memperlihatkan semangat kebersamaan antarwarga. Selain itu, masyarakat Desa Ulo juga menyiapkan hidangan untuk para tamu, di antaranya daging kuda yang dimasak bersama-sama. Pemotongan kuda menjadi bagian penting dari acara sebagai simbol rasa syukur dan bentuk penghormatan terhadap tamu yang datang dari berbagai daerah.[1]

Ritual Cemme Passili tidak hanya diikuti oleh warga Desa Ulo, tetapi juga oleh masyarakat dari desa sekitar yang datang untuk berpartisipasi. Prosesi ini dianggap sebagai peristiwa sosial yang memperkuat hubungan kekeluargaan dan solidaritas komunitas lokal.[2]

Makna Sosial dan Religius

Cemme Passili memiliki makna simbolik sebagai bentuk pembersihan lahir dan batin. Air dalam ritual ini dianggap suci dan berfungsi membersihkan masyarakat dari hal-hal buruk yang mungkin menimpa mereka.[2] Di samping itu, tradisi ini memperlihatkan nilai gotong royong dan kebersamaan, karena seluruh warga terlibat dalam persiapan hingga pelaksanaan acara.

Dalam penelitian antropologi budaya, Cemme Passili juga mencerminkan hubungan spiritual masyarakat Bugis dengan alam dan Sang Pencipta. Doa dan permainan air dianggap sebagai bentuk permohonan agar hujan turun serta tanda syukur atas kehidupan yang diberikan.[2]

Variasi Tradisi di Masyarakat Bugis

Di beberapa daerah lain di Sulawesi Selatan, istilah Cemme Passili atau Mappassili juga digunakan untuk menyebut ritual penyucian diri sebelum pernikahan. Ritual dilakukan dengan doa, percikan air suci, dan penggunaan air dari sumur yang dianggap keramat. Tujuannya untuk membersihkan calon pengantin dari hal-hal buruk sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Prosesi ini dipimpin oleh indo’ botting (pembimbing pengantin perempuan) yang memanjatkan doa sambil memercikkan air ke calon mempelai dan sekeliling rumah. Setelah prosesi selesai, calon pengantin mandi seperti biasa dan melanjutkan rangkaian upacara pernikahan lainnya.[3]

Baik dalam upacara agraris maupun pernikahan, Cemme Passili memiliki inti makna yang sama, yaitu penyucian diri dan permohonan keselamatan bagi individu maupun masyarakat.

Pelestarian

Hingga kini, Cemme Passili masih rutin dilaksanakan setiap tahun di Desa Ulo, Kabupaten Bone.[1] Pemerintah daerah dan lembaga kebudayaan turut berupaya melestarikan tradisi ini dengan menjadikannya bagian dari agenda festival budaya lokal. Cemme Passili dianggap sebagai warisan budaya Bugis yang memperlihatkan keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan, serta menjadi salah satu simbol kearifan lokal masyarakat Bone.[2]

Referensi

  1. ^ a b c d Malik, Agung RInaldy (12 Mei 2017). "Cemme Passili, Upacara Pembersihan Diri Warga Desa Ulo". Perpustakaan Digital Budaya Indonesia. Diakses tanggal 2025-11-12.
  2. ^ a b c d e f g Sukaria, Sukaria (2017-08-23). "Tradisi Cemme Passili' di Desa Ulo Kecamatan Tellu Siattingnge Kabupaten Bone (Studi Antropologi Budaya)". Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
  3. ^ Pratiwi, Ainun; Rahman, Abdul (2023). "Tradisi Cemme Passili Di kalangan Masyarakat Bugis Di Kabupaten Bone". Pinisi Journal Of Art, Humanity And Social Studies. 3 (1). ISSN 2747-2671.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.