Butoh

Butoh (舞踏, Butō) merupakan bentuk teater tari asal Jepang yang mencakup berbagai teknik, ekspresi, dan motivasi artistik dalam gerak tubuh maupun pertunjukan. Tarian ini muncul setelah Perang Dunia II, tepatnya pada tahun 1959, melalui kolaborasi antara dua tokoh utama, Tatsumi Hijikata dan Kazuo Ohno. Sebagai bentuk seni, butoh dikenal karena sifatnya yang menolak batasan dan sulit untuk didefinisikan secara pasti.[1] Hijikata sendiri menolak upaya formalisasi terhadapnya.[2] Ciri khas butoh mencakup penggunaan citra-citra yang aneh, mengeksplorasi tema-tema tabu, serta penciptaan suasana ekstrem dan absurd. Pertunjukan tradisionalnya biasanya dilakukan dengan tubuh yang dilapisi riasan putih dan gerakan lambat yang sangat terkontrol. Kini, butoh telah berkembang ke berbagai belahan dunia dengan munculnya kelompok-kelompok yang menampilkan interpretasi dan estetika yang beragam.
Sejarah
Butoh muncul di Jepang setelah Perang Dunia II pada tahun 1959 melalui kolaborasi antara Tatsumi Hijikata dan Kazuo Ohno, berkembang dalam lingkungan avant-garde Jepang pada dekade 1950–1960-an.[3] Bentuk seni ini lahir sebagai reaksi terhadap dunia tari Jepang saat itu, yang oleh Hijikata dianggap terlalu meniru gaya Barat dan terlalu terikat pada bentuk-bentuk tradisional seperti Noh. Ia berupaya menciptakan estetika baru yang menolak pengaruh tarian klasik dan modern Barat, dengan menekankan gerakan yang bersumber dari tubuh yang rendah, terhubung dengan tanah, serta mencerminkan ekspresi alami rakyat biasa.[2] Gagasan tersebut kemudian diwujudkan dalam gerakan awal yang disebut ankoku butō (暗黒舞踏), yang berarti “tarian kegelapan.” Gaya ini menampilkan gerak tubuh yang kasar dan ekspresi yang tidak halus, sebagai penolakan terhadap nilai estetika tradisional Jepang seperti miyabi (keanggunan) dan shibui (kesederhanaan yang elegan).[4]
Pertunjukan butoh pertama berjudul Kinjiki (禁色, “Warna Terlarang”), karya Tatsumi Hijikata, dipentaskan perdana pada tahun 1959 dalam sebuah festival tari. Karya ini terinspirasi dari novel dengan judul yang sama karya Yukio Mishima dan menyoroti tema tabu tentang homoseksualitas. Pertunjukan tersebut menampilkan adegan kontroversial di mana Yoshito Ohno, putra Kazuo Ohno, memegang seekor ayam hidup di antara kedua kakinya, diikuti dengan adegan Hijikata yang mengejar Yoshito ke luar panggung dalam kegelapan. Reaksi keras dari penonton terhadap pertunjukan ini menyebabkan Hijikata dilarang tampil kembali di festival tersebut.[5]
Pertunjukan butoh pada masa awal dikenal dengan sebutan “Pengalaman Menari”. Pada awal 1960-an, Tatsumi Hijikata mulai menggunakan istilah Ankoku-Buyou (暗黒舞踊), yang berarti “tarian kegelapan”, untuk menggambarkan gaya tari yang ia kembangkan. Namun, karena kata buyo masih kuat dikaitkan dengan tradisi tari klasik Jepang, Hijikata kemudian menggantinya dengan istilah butoh, sebuah kata lama yang sebelumnya digunakan untuk menyebut tarian bergaya Eropa, khususnya dansa balai riung.[6]
Pengaruh
Para pengajar yang mengadaptasi pendekatan bergaya Hijikata umumnya menekankan penggunaan visualisasi yang kompleks dan imajinatif, sering kali bersifat mimetik, teatrikal, serta sarat ekspresi emosional. Di antara tokoh-tokoh yang mewakili gaya ini adalah Yukio Waguri, Yumiko Yoshioka, Minako Seki, serta pasangan Koichi dan Hiroko Tamano, yang dikenal sebagai pendiri Harupin-Ha Butoh Dance Company.[7]
Referensi
- ^ Waychoff, Brianne. "Butoh, Bodies and Being". Kaleidoscope. Diakses tanggal 6 March 2014.
- ^ a b Sanders, Vicki (Autumn 1988). "Dancing and the Dark Soul of Japan: An Aesthetic Analysis of "Butō"". Asian Theatre Journal. 5 (2): 152. JSTOR 25161489.
- ^ Sanders, Vicki (Autumn 1988). "Dancing and the Dark Soul of Japan: An Aesthetic Analysis of "Butō"". Asian Theatre Journal. 5 (2): 148–163. JSTOR 25161489.
- ^ Sanders, Vicki (Autumn 1988). "Dancing and the Dark Soul of Japan: An Aesthetic Analysis of "Butō"". Asian Theatre Journal. 5 (2): 149. JSTOR 25161489.
- ^ Maria Grigoriu (28 Oktober 2021). "Butoh". University of the Arts London. Diakses tanggal 04 November 2025.
- ^ Kurihara, Nanako. The Most Remote Thing in the Universe: Critical Analysis of Hijikata Tatsumi's Butoh Dance. Diss. New York U, 1996. Ann Arbor: UMI, 1996. 9706275
- ^ "LINE掲示板は危険※安全なLINE交換方法はコレだ!". www.harupin-ha.org. Diarsipkan dari asli tanggal 20 Oktober 2018. Diakses tanggal 20 April 2018.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.